Rabu, 2009 Juli 15

Profesi Muslimah

Tak perlu bosan rasanya membahas tentang wanita. Bukannya narsis atau mengistimewakan terhadap laki-laki. Tapi memang wanita sering dijadikan objek 'brain washing' dari pemikiran-pemikiran liberalism dan feminism. Termasuk tentang profesi atau peran wanita dalam kehidupan bermasyarakat.

Jauh sebelum gerakan emansipasi wanita berhembus, Islam telah lama mengangkat persamaan derajat antara manusia. Meskipun berbeda suku, bangsa, bahasa, laki-laki atau perempuan, semua sama di mata Tuhan. Why? Because the real value of a human being is Taqwa. Taqwa means : God consciousness, fear of Allah, righteousness.

”Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu.”(QS, al-Hujurat [49]: 13)

then why Taqwa?

“Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah taqwa. Dan bertaqwalah kepada-Ku, hai orang-orang yang berakal.” (QS. Al Baqarah : 197)

Nah ayat diatas diakhiri dengan menyapa orang-orang yang berakal. Jadi seseorang harus berpikir lagi :Apa gunanya ia berbekal? Memang kemana dia akan pergi sehingga harus berbekal? Lalu apa hubungannya dengan berusaha menjadi orang yang sama atau lebih tinggi derajatnya dari orang lain?

Jadi Jelas. Bukan gender pembeda derajatnya. Siapa paling taqwa, dia paling tinggi. It's just like a game. Who has collected the hugest poin, he get the highest level. Adil kan?

So, does Islam allow Us (woman) to work as man work?

The answer is Islam deeply honors woman. Islam sangat menghargai, memuliakan wanita ;)

I mean Islam doesn't forbidd woman to work as a sailor, bussinessman, company leader, engineer, etc. Dan kembali lagi bahwa islam menghargai wanita, sehingga melindungi wanita dari berbagai fitnah. Sederhananya, wanita punya 2 peranan besar:

1. Family Manager ( Istri dan Ibu)
Ini kewajiban, nggak bisa diganti oleh laki-laki. Soalnya nggak ada kan pria yang bisa hamil dan melahirkan? :) Househusband yang sempat dicoba beberapa keluarga di Amerika juga ternyata bermasalah. OK kalau ada yang bilang man is good caregiver. But I think commonly they aren't as well as woman care to their children.

Juga karena hal yang paling pertama yang diminta pertanggungjawaban oleh Allah dari seorang wanita adalah mengenai suami dan anak-anaknya.

2. Society Mover
wanita itu penggerak masyarakat. Realita : Megawati mampu menggerakkan jutaan orang di partainya. Terlepas dari profil partainya, dengan berbekal kharisma Sang Ayah, dia punya kekuatan menggerakkan massa. Meskipun mungkin pengaruh SBY lebih besar untuk menggerakkan massa dan memenangkan pemilu tahun ini ;)

Contoh lain, Aisyah r.a. mampu menggerakkan ummat dalam Perang Jamal, sekali lagi terlepas dari alasan terjadinya perang. yang jelas beliau punya peran dalam menyadarkan ummat dan membuat mereka tergerak.

Lihat, ternyata secara psikologis wanita berperan besar disana.
Di balik layar pun, Khadijah adalah motivator sejati Rasulullah SAW. Disaat pertama mendapat wahyu, khadijahlah yang memberi dukungan dan semangat. Sehingga Rasulullah mau bergerak dan menggerakkan ummat untuk berislam.

Dalam realita, society mover itu bisa sebagai pengurus lembaga masyarakat,majelis Ta'lim,PKK,NGO, wirausaha,legislatif pemerintah, eksekutif (karyawati, PNS, guru), Istri RT/RW, Istri Presiden juga :D, dan banyak lagi


Intinya adalah dia bisa berkontribusi dan berprestasi untuk kemashlahatan ummat dengan menghindari mudharat2 yang ada. Hindari profesi yang mengharuskan berpindah agama, melepas jilbab atau mengumbar aurat. Juga profesi yang menyebabkan kita sibuk tak punya waktu sedikitpun untuk mengurus anak/keluarga.

Kalau bisa jadi pebisnis lewat internetan di rumah, sambil ngurus anak, kenapa enggak?

Jadi anggota legislatif yang sukses juga membina anaknya jadi hafidz Quran kenapa enggak?

Jadi pengurus LSM yang anaknya juara Olympiade fisika Internasional, kenapa enggak?

Yang penting, dahulukan mendidik anak dan keluarga, baru mendidik lingkungan/masyarakat. Karena kalau semua anak di semua rumah dididik dengan baik oleh Ibu-ibunya yang cerdas, maka otomatis masyarakatnya juga cerdas :)

Jadi, ada banyak pilihan profesi untuk para Muslimah di Dunia. ^__^

wallahu'alam bishshowab

Senin, 2009 Juni 22

Jangan Mau Rugi...!

Pernah dengar " Merugilah orang yang tidak bangun pagi"?
Saya sendiri lupa pernah dengar dari siapa, apakah hadits atau bukan, yang jelas saya percaya hal itu.

Pernah saya alami sendiri ruginya bangun kesiangan. Semuanya serba terburu-buru. Sarapan aja nggak sempat. Padahal angkot selalu macet disimpang. Jadilah hari itu saya terlambat masuk. Meskipun akhirnya bisa masuk kelas, ternyata saya lupa membawa kalkulator. Padahal saat itu harus mengerjakan banyak soal. Huhuhu... Pagi itu merasa rugi banget.

Kalau kita perhatikan, pagi-pagi jam 7an aja pasar tumpah yang ada di pinggir jalan sudah hampir sepi. Kenapa? karena memang ramenya mulai dari subuh bahkan jam 3 pagi! Para pedagang jelas rugi kalau bangunnya kesiangan. Mereka harus berangkat pagi-pagi sekali agar dapat rezeki. Makanya, bangun pagi banyak rezeki...

Yang biasa bangun pagi, adalah ayam. Ayam aja rajin banget dini hari sudah bangun dan berkeruyuk membangunkan orang-orang. selain itu marbot masjid ^^, soalnya dia harus bangun sebelum subuh biar bisa adzan. Bahkan biasanya dia sholawatan dulu, membangunkan orang-orang, mengingatkan sahur kalau ada yang mau shaum lewat mikrofonnya. Wah pahalanya besar juga ya...

Selain itu untungnya angun pgi adalah, kita punya banyak waktu untuk shalat sunnah sebelum shalat subuh. Yang pahalanya lebih baik dari dunia dan seisinya! Udah gitu, saat subuh adalah saat malaikat melaporkan 'pemantauannya' terhadap kita, kepada Allah. Selain subuh, juga ashar. makanya, pasti mau dong kita dilaporkan dalam keadaan terjaga dan sedang beribadah mengingat Allah. Bertasbih di pagi dan sore hari... Bukan dilaporkan sedang enak tidur lelap, tidak menyambut seruan Allah untuk shalat subuh...

Subuh oh Subuh... Berapa kali kami melalaikanmu?

Sabtu, 2009 Mei 30

Cahaya Hati

Akhir-akhir ini selalu mendapat sms taushiyah dari salah satu A-team dan isinya bait nasyid Opick. Jadi mau posting salah satu nasyidnya Opick.^__^

Sebelumnya, malam jumat kemarin saya mabit ke DT sama akhwat2 sahabat saya di TL. Malam itu ada seorang wanita Non-Muslim yang baru berSYAHADAT dan masuk Islam. Subhanallah, malam itu Allah mengantarkan hambaNya kepada jalan hidayah. Bertambah lagi muslimah di bumi ini. Dan yang menarik, muslimah tersebut katanya tersentuh saat mendengar NASYID Opick, selain ia juga kagum dengan rekan-rekan kerjanya yang terlihat bahagia dengan menjadi muslim. Ia bilang, hidupnya selama ini seakan sia-sia. Tapi begitu mendengar nasyid Opick ia seakan mendapat petunjuk bagaimana mencerahkan hidupnya... wah nasyid bisa jadi penghantar hidayah ya!

Subhanallah... Allahu Akbar.

(Cahaya Hati, by Opick)
Allah engkau dekat penuh kasih sayang

Takkan pernah engkau biarkan hamba-Mu menangis
Karna kemurahan-Mu
Karna kasih sayang-Mu

Hanya bila diri-Mu
Ingin nyatakan cinta
Pada jiwa-jiwa yang rela

dia kekasih-Mu
Kau selalu terjaga Yang memberi segala

Allah Rahman Allah Rahim
Allahu Ya Ghafar Ya Nurul Qolbi
Allah Rohman Allah Rahim
Allahu Ya Ghafar Ya Nurul Qolbi

Di setiap nafas di segala waktu
Semua bersujud memuji memuja asma-Mu
Kau yang selalu terjaga yang memberi segala

Setiap mahluk bergantung pada-Mu
Dan bersujud semesta untuk-Mu
Setiap wajah mendamba cinta-Mu cahaya-Mu

Yaa Allah Ya Rahman
Yaa Allah Yaa Alllah Yaa Allah
Ya Nurul Qolbi
Yaa Allah

Kamis, 2009 April 23

Jilbab Pertamaku

It was a long time; I’ve been tagged by Ochie to write this topic. But just now I can write it down. Actually, my first veil (veil means ‘kerudung’) when I was seven years old. I was third grade of elementary school, at the moment. Before that, I used to wear it in the afternoon when I go to mosque to learn recite Quran with other kids. That habit made me decided to wear that veil to my school.

In my grade, I was the first girl that wore veil to the school. At the time, my uniform was still short, also with the short skirt. Because on my mind, wearing veil doesn’t mean you also close your hand and foot; you only need to protect your hair. Hohoho, what a kid!

(Let’s back to Indonesian language-udah lama nggak berbahasa Inggris jadi kagok, hiks hiks)

Sekolah TK saya sekolah Islam, tiap jumat pake baju muslim. Kalo ngaji sore di mushala juga pake kerudung. Tapi kalau sekolah SD -berhubung nggak ada seragam panjang juga- jadi kadang pake kerudung, kadang lepas. Suka-suka deh! Lagian saya anaknya ‘bandel’ dulu…

Biasanya main pakai celana, panas-panasan, ‘berpetualang’ ke kampung-kampung, suara paling toa, pokoknya bandel deh! Bahkan saya dan temen-temen se-gank ngebuat struktur organisasi gank kita. Kita berenam, pake nunjuk siapa sekretarisnya, bendahara sama wakilnya segala lagi, dan saya yang dipilih jadi ketuanya! Padahal saya yang paling kecil diantara yang lain! Hohoho, bisa-bisanya…

Tapi kelamaan saya mulai nyaman dan memakai kerudung kemana-mana. Sekalipun pas lagi main jauh-jauh. Bahkan saya merasa lebih terlindung dari panas matahari yang menyengat. Saya juga tetep aktif kok mainnya dan tentunya tetep juara kelas… :D

Ketika SMP, saya mulai memperbaiki pakaian saya. Maksudnya, dulu pas SD kan pake kerudung tapi seragamnya pendek. Nah, di SMP sudah ada seragam panjang. Hal itu nggak menghalangi saya untuk aktif dalam PMR sekolah dan menjadi petugas pengibar bendera saat upacara. Saya juga selalu masuk kelas uggulan. Tapi main tetep jalan, plus main-main juga ke masjid sekolah… ( Narsis mode on :D )

Saat kelas 2 SMP saya sudah mulai baligh, tapi bisa dikatakan saya masih belum berjilbab dengan baik. Masih pake kerudung langsung (soalnya ribet pake jilbab peniti…) dan belum menutup kaki. Itu karena pemahaman saya pun masih sangat dangkal. Saya memaknai berkerudung sebagai kewajiban saja, tapi nggak tahu adab-adabnya yang benar.

Alhamdulillah, saya meneruskan sekolah di SMA yang menjadi telaga ilmu bagi saya. Disana fellow (ibu pembimbing di asrama-red.) dan guru-guru perempuannya jilbaber semua. Guru cowoknya juga ustadz-ustadz muda tapi keren! Disanalah saya dikenalkan konsep menutup aurat yang diperintahkan Allah.

Tau nggak siapa yang pertama kali memberi tahu? Pak Arsil, Principal (kepala sekolah-red.) saya, dalam suatu apel pagi yang kami lakukan tiap hari sebelum belajar! Beliau meskipun lelaki, tapi begitu pedulinya dengan murid-murid perempuannya. Beliau bilang, berjilbab itu melindungi tubuh selain telapak tangan dan wajah, lalu tidak boleh membentuk tubuh, tidak transparan, dsb, dsb, dengan bahasa yang enak didengar…

Selain itu, di SMA kami wajib pakai jilbab peniti (maksudnya jilbab segiempat yang biasa dipakai itu, kan dipasang dengan peniti…). Maka saya belajar, sehingga kelamaan nggak ribet lagi pakenya. Nah, kalau dibilang ‘Jilbab Pertamaku’ maka pas SMA itulah bisa dibilang Jilbab Pertamaku…

Karena saya menggunakannya dengan pemahaman, kesadaran, dan mulai ditambah dengan menutup kaki juga. Karena saya baru tahu kaki juga ternyata aurat, toh… jadi kita tutup dengan kaos kaki. Simpel aja, ternyata.

Yang menarik, awal berjilab saya masih belum menutup kaki. Teman saya, Nurul (yang lebih suka dipanggil Zee) mencoba menjadi pioneer. Tapi teman-teman malah menertawakan. Katanya aneh banget deh, kok dalam ruangan pake kaos kaki, pake sandal kok pake kaos kaki juga…

Subhanallah, tapi Zee tetep maju, hingga saya pun mendukungnya dan segera menyusul. Ikut memakai kaos kaki dihadapan yang bukan mahrom, dimanapun berada. Disusul sistri, lamya, ridha, dan seterusnya. Setelah itu saya yang awalnya masih pake celana jeans mulai sering pakai rok. Meskipun roknya pinjeman dari fellow! Hohoho, fellow saya baik sekali…

Tanggapan orang tua?

Hehe, mungkin awalnya sedikit heran. Kok anaknya berubah penampilan ginih… Tapi ortu tetep senang, karena prestasi saya tetap bagus dan justru perilakunya jadi lebih sopan sama ortu (katanya sih…). Dan semenjak itu saya jadi lebih sering membangun komunikasi dengan ortu, salah satunya menjelaskan perubahan cara berpakaian tersebut. Ortu sama sekali tidak keberatan. Ibu malah seneng banget. Adik saya juga jadi ikut-ikutan… ^__^

Tanggapan temen-temen lama?

“ Wah ros, makin dewasa aja lu..!"
(padahal saya merasa masih kayak anak kecil...)
“ Eh pangling deh ngeliat rosi…"
(wajarlah, lama nggak ketemu sih)

“ Gue pengen pake jilbab, tapi pas udah nikah, ros. Doain ya...”
(Kapan Nikahnya??? Cepetan nikah!! hehehe...)
“Alhamdulillah, rosi kalo lagi libur bantuin teteh ngajar anak-anak TPA ya…”
(Gubrak! dikiranya tahsin saya langsung bagus begitu berjilbab, padahal...)
“ Aduh kapan ya gue bisa pake jilbab, ros. Gue kan masih pacaran…”
(Allah nggak bosen nungguin kamu menjemput hidayah, tapi kamu harus cepet-cepet sebelum waktunya habis...)

Dan banyak lagi. Padahal saya nggak ngomong apa-apa tentang jilbab saya loh... Saya diam aja, tapi mereka sendiri yang berkomentar. Jadi ingat kata seorang fellow, "seorang muslimah berjilbab, diamnya saja bisa jadi syi’ar kok…"

Alhamdulillah, dengan berjilbab saya merasa pertolongan-pertolongan Allah semakin banyak. Semakin kuat keinginan untuk mempelajari Islam. Hadits yang pernah saya dengar “ Sesungguhnya jika Allah mencintai seorang hamba, Dia menjadikannya paham dalam agama”. Semoga kita semua termasuk didalamnya, jadi nggak bosen-bosen memperbaharui pemahaman Islam, sehingga perilaku dan amal kita mengikuti. Dan sudah saya rasakan sendiri bahwa amal itu harus didahului dengan ilmu…

Jadi, buat temen-temen yang mau ngerasain sensasi ‘Jilbab Pertamaku’ silahkan dicoba! Kalau ada iklan: “buat anak kok coba-coba…” maka lain lagi untuk kita: “Pake jilbab boleh kok coba-coba…” Hehehe…

So, bagaimana dengan pengalamanmu?