Jumat, 01 April 2011

Kupu-kupu Kertas 'Aisyah (5): Yang tak habis tuk disyukuri

--------di sebuah angkot biru dalam perjalanan menuju kampus

menghabiskan waktu untuk melakukan perjalanan
artinya mendapat kesempatan untuk mengamati realita masyarakat sekitar
kesempatan untuk menangkap fenomena semesta sekitar
kesempatan untuk berpikir lalu ...


angkot itu melaju perlahan sembari mencari tambahan penumpang. Sekitar 10 menitt angkot akan terhenti di persimpangan jalan karena lampu merah. Macet. Terbilang lama bagi seorang mahasiswa yang terlambat memenuhi janji datang ke kampus setengah jam lalu. Ai menggerutu dalam hati. Menyalahkan diri sendiri yang belum juga disiplin terhadap waktu, sekaligus menjuruskan pandangan ke arah supir angkot seakan ingin marah kepada sang supir yang innocent itu. Supir juga nggak mau kena macet kali..!

Setelah lampu merah berhasil dilewati, supir kembali melaju. Masih pelan-pelan. Lelah memandang ke arah depan supir, Ai memalingkan pandangan ke luar angkot. Terjadilah tumbukan antara pandangan matanya dengan seorang bapak yang sedang berjongkok. Di tangan si bapak ada sebuah mangkok. Isinya dapat dipastikan mie instant pake kuah. Slurph..sluurph... Nikmat sekali kelihatannya sang bapak menyantap mienya. Ai melihat jam. 10:00 AM. Jadi Ai menyimpulkan bapak itu lagi makan pagi menjelang siang.

Ah, makan apa gw tadi pagi?
nasi, ayam, sayur. plus susu lagi..

Kenapa piula si bapak harus makan sambil jongkok gitu di trotoar jalan?
meski di kosan nggak ada ruang makan khusus,
gw makan dengan nyaman banget di ruang tengah..
Trus siapa pula seorang ibu dan seorang nenekyang duduk di kursi tepat di hadapan si bapak?
sambil menjaga warung kah? eh apa itu warung sekalian tempat tinggal ya?

Semua itu di tangkap mata dalam waktu beberapa detik saja. Angkot kini melaju sangat kencang. Baguslah, Ai kan memang sedang terburu-buru...

------siang, di sebuah rumah sakit

Lift itu terbuka. Dina dan Ai masuk untuk turun dari lantai empat ke lantai satu. Dina akan menjalani operasi tumor pekan depan. Sepanjang menemani Dina melakukan registrasi untuk operasi, Ai tidak menangkap rasa takut atau gelisah sedikit pun pada wajah Dina. Aneh, orang mau operasi kan biasanya khawatir, ini malah senyum-senyum aja...

Di lantai tiga lift terbuka lagi. Seorang anak laki-laki memakai kursi roda, didorong seorang bapak yang didampingi istrinya masuk. Bengong saja wajah si anak..

Anak-anak kan harusnya ceria ya?
Ah mungkin kamu lupa, anak ini tentu lagi sakit.

lihat saja ada infus di lengannya.
Ada sedikit darah terlihat..


Ai mencoba menyapa, "ade... namanya siapa?" sambil senyum berharap si anak menjawab dan tersenyum juga. Tapi sayang tak ada respon apapun dari si anak. Wajahnya seakan sudah terprogram untuk kusut begitu. Malah sang bapak yang senyum..

ganti pertanyaan, "sakit apa de..?"

si anak tetap membisu seribu bahasa. Kembali sang bapak yang senyum, sambil menjawab "ini, kelaminnya ada yang sakit..."

Wait! Apa yang dibilang bapak tadi? Uh anak sekecil ini kasian banget sakit seperti itu... Tapi, tapi,, si bapak dan istrinya tetap senyum, padahal dihadapkan dengan ujian seperti itu..

Ai yang tidak mau memperlihatkan rasa ibanya segera senyum dan memberi semangat, "semoga cepat sembuh ya...". Dan si anak tetap berwajah kusut dan membisu, sedang si bapak dan ibunya tetap tersenyum. Percakapan itu tentu sangat singkat, karena lift kembali terbuka di lantai satu dan semua orang beranjak keluar...

Dina dan Ai pun kembali ke kampus, naik angkot hijau yang ngetemnya super lama di depan rumah sakit...

-----di dalam angkot hijau yang akhirnya penumpangnya penuh juga

angkot itu melintasi jalan perumahan. Sekilas Ai melihat ada orang nggak pake celana. Rambutnya gonrong. Baju atasannya lusuh bin kumel. Apa yang dilakukan orang itu?

Eh eh, itu orang gila ya?
Hm... mau ngapain tuh?
Wah mau buang air kayaknya
Duh itu kan selokan rumah orang

Kasian deh yang punya rumah

Tapi lebih kasian lagi orang gilanya yang sudah hilang rasa malunya
selain emang nggak punya tempat tinggal...
Hm... eh orang-orang seangkot juga pada ngeliat ke arah sana nampaknya


Lagi-lagi waktunya sangat singkat. Paling cuma 5 detik...

-------di masjid kampus berlantai kayu

menghabiskan waktu untuk melakukan perjalanan
artinya mendapat kesempatan untuk mengamati realita masyarakat sekitar
kesempatan untuk menangkap fenomena semesta sekitar
kesempatan untuk berpikir lalu: berdzikir dan bersyukur


ya Allah, apa maksudnya hal-hal yang Engkau perlihatkan kepada hamba hari ini?
rasanya hamba memiliki apa yang tak dimiliki orang-orang itu
tapi entah kenapa hamba masih terus menggerutu
merasa diri ini yang paling tidak punya, tidak beruntung atau selalu kurang...


ya Allah, maafkan hamba yang sering melupakan nikmatMu yang tak terhingga ini
Ah betapa banyak nikmatMu yang tak habis tuk disyukuri


"Allahumma a-'innii 'alaa dzikrika wa syukrika wa husnii 'ibaadatik"
(ya Allah, bantu hamba untuk ingat berdzikir kepadaMu, bersyukur kepadaMu dan beribadah yang baik kepadaMu)
Hooooi Duniaaa!!! Saksikanlah gw bakal berubah mulai sekarang! Gw mau jadi seindah kupu-kupu kertas! Gw mau mensyukuri nikmat dari Allah ini sebaik-baiknya.. dengan lebih totalitas dalam menjalankan perintahNya.. termasuk salah satunya berjilbab untuk menjaga kemuliaan diri... Mbak syifa, you must be smile at me!! :)

rintik hujan gerimis menghiasi langit senja itu
ah ada pelangi di bola mata Ai


kupu-kupu kertas siap mengarungi hidup yang warna warni, kawan....!!!! :D

----- di depan layar komputer

sang penulis memutuskan untuk mengakhiri serial kisah kupu-kupu kertas 'Aisyah. mohon maaf jika kisahnya terpisah-pisah dan rentangnya sangat lama antar satu kisah dengan yang lainnya. semoga dari tulisan yang sedikit itu bisa menginspirasi pembaca untuk melakukan kebaikan. Thanks for Reading..... :)

next story, insya Allah: "Kunang-kunang Kaca Firdaus"
(jujur sang penulis belum kebayang mau bikin cerita apaan, hohoho =P)

1 komentar:

Anonim mengatakan...

iya.. harus sering bersyukur.. harus lebih berusaha jgn sampai kalah dari yg memiliki keterbatasan.. hayu kita perbaiki diri..